TCL and Blackberry

Sebelum dikelolah oleh Onward Mobility sebagai perusahaan pemegang lisensi manufaktur untuk brand Blackberry di tahun 2020, Blackberry lebih dahulu di produksi oleh perusahaan asal china yang bernama TCL Technology. 

TCL merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa, produksi dan manufaktur berbagai macam produk elektronik seperti kulkas, ac, mesin cuci, smartphone, dll. Untuk smartphone sendiri, perusahaan memiliki personal brand dengan merk TCL serta lisensi merk perusahaan seperti Alcatel, Palm dan Blackberry (2016-2020)

Tahun 2016, Blackberry Limited memutuskan untuk tidak melanjutkan lini bisnis smartphone dan menyerahkan operasional bisnis tersebut kepada pihak ke tiga melalui lisensi perjanjian. Perusahaan yang bekerja sama dengan Blackberry saat itu adalah TCL Corp. (Sebelum berubah menjadi TCL Communication). TCL kemudian menjadi Global License brand Blackberry itu sendiri dengan nama “Blackberry Mobile”. Lisensi ini juga dipercayakan kepada Perusahaan Optiemus Infracom dan PT BB Merah Putih Indonesia yang akan spesifik mengurusi pasar di India dan Indonesia. 

The Beginning (Awal Mula)

Tahun 2017 bisa merupakan tahun yang menantang untuk para pemegang lisensi blackberry. Karena tiga perusahaan pemegang lisensi masing-masing mengeluarkan ponsel blackberry untuk pangsa pasar wilayah masing-masing. 

TCL mengeluarkan Blackberry KEYone, Optiemus Infracom dengan Blackberry Motion, dan PT BB Merah Putih dengan Blackberry Aurora.|

Peluncuran Blackberry KEYone memancing atensi media  pameran CES (Consumer Electronics Show) 2017 karena TCL merahasiakan spesifikasi, bentuk dan nama smartphone hingga hari pameran. Respon positif di pameran CES 2017, membuat BlackBerry KEYone meraih penghargaan di katagori “Best of CES” oleh beberapa jurnalis elektronik

Blackberry Motion

Blackberry KEYone disambut positif karena tampilan yang kokoh dan design yang elegan oleh beberapa jurnalis. Kepopuleran ponsel ini membuat TCL sedikit kewalahan karena permintaan unit KEYone diatas ekspektasi yang dipatok oleh Perusahaan. Target pasar perusahaan hanyalah 10 s.d 15 pasar secara global. Namun permintaan tersebut naik hingga dibutuhkan lebih dari 50 pasar besar di seluruh dunia. Kesuksesan ini membuat KEYone dibuat menjadi 3 varian, Diantaranya:

  1. Blackberry KEYone Silver Edition
  2. Blackberry KEYone Black Edition 
  3. Blackberry Bronz Edition. 
Versi pertama merupakan versi untuk pasar global, dimana KEYone yang diluncurkan memiliki corak abu-abu di pinggiranya / Silver Edition KEYone
Versi kedua adalah versi yang awalnya dijual untuk pasar india yaitu Blackberry KEYone dengan corak hitam di pinggiran dan bezel handphone nya / BlackBerry KEYone Limited Black Edition. Versi kedua ini dijual di indonesia dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menggantikan varian silver untuk pasar global.
Versi ketiga, atau lebih sering disebut dengan Bronze edition, Versi ini merupakan varian yang paling akhir diluncurkan (Januari 2018), dimana menargetkan pangsa pasar eropa dan timur tengah. 

Tampilan Blackberry Silver Edition, Black Edition dan Bronze Edition

Ekspektasi TCL terhadap Blackberry KEYone bisa dibilang terpenuhi, walau menurut Francisco Jeronimo dari IDC (International Data Corporation) mengatakan bahwa penjualan Blackberry KEYone hanya mencapai 850.000 Unit. TCL berpendapat bahwa jalur distribusi yang baru itu merupakan matriks yang lebih penting daripada penjualan barang, sebab dengan adanya jalur distirbusi yang baru, penjualan dapat dilakukan secara langsung guna memperoleh customer yang potensial di masa mendatang. 

Fail to Impress (Impresi yang gagal)

Penjualan KEYone oleh TCL yang diatas ekspektasi membuat Perusahaan segera meluncurkan produk ponsel selanjutnya yaitu Blackberry KEY2 di tahun 2018. Hadir dengan segala peningkatan baik dari peningkatan chipset ponsel, Keyboard yang lebih lebar, Kamera yang lebih tajam, hingga OS yang sudah upate, membuat perusahaan menaruh harapan besar bahwa KEY2 akan lebih sukses daripada pendahulunya (KEYone). 

Diatas kertas, peningkatan yg signifikan seharusnya membuat ponsel ini menjadi komodito yang menarik untuk dibeli, namun respon market cukup berbeda ketika starting price yang ditawarkan terlampau tinggi apabila melihat spesifikasi yang ditanankan di ponsel ini. Jurnalis menilai bahwa KEY2 akan kesulitan merebut pangsa pasar baru karena harga masuk yg terlalu tinggi dan banyaknya alternatif ponsel yg menawarkan performa sama namun di harga yg kompetitif 

Melihat respon konsumen yg menginginkan ponsel dengan harga yg lebih murah, membuat TCL meluncurkan varian alternatif dengan harga yg lebih murah, yaitu Blackberry KEY2 LE (lite edition). Ponsel ini ditawarkan ke publik dengan harga yang  lebih murah  dibandingkan dengan Blackberry KEY2, dengan penurunan fitur di smart keyboard dan otak chipset yang lebih affordable

TCL berharap dengan menggunakan startegi diferensiasi produk, perusahaan dapat menaikan penjualan ponsel blackberry secara signifikan. Namun promosi pemasaran Perusahaan yang “adem ayem” membuat eksposure KEY2 tidak sekuat dari pendahulunya. Di samping itu, banyak reviewer dari platform online seperti Youtube yang menilai bahwa KEY2 tidak layak untuk dibeli. Penilaian konsumen di Youtube cukup banyak membuat konsumen lain untuk berpikir ulang ketika ingin membeli ponsel yang belogo berry hitam ini.  

Penjualan yang lesu (poor sales)

Dilansir dari situs crackberry, terdapat user name francon yang mengklaim bahwa dia mendapatkan informasi penjualan ponsel blackberry di TCL. Walau dokumen yang bocor tidak dapat dipastikan kebenaranya, gambar yang di bagikan di situs tersebut cukup menarik untuk dianalisis. 

Melihat angka-angka diatas, cukup menarik bahwa penjualan ponsel di tahun 2017 membukukan penjualan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan penjualan ponsel di tahun 2018 serta Q1-Q3 2019. Ponsel KEYone diluncurkan di Februari 2017, dimana penjualan ponsel di tahun tersebut menyentuh kisaran 650 ribuan unit. Hal ini cukup jomplang dengan penjualan di tahun 2018 dan Q1-Q3 2019, penjualan ponsel blackberry turun hingga 50% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menariknya, jika di bulan Juni 2018, Blackberry KEY2 baru diluncurkan, nilai penjualan ponsel (gabungan) dari bulan juli hingga desember tidak sebesar dari nilai penjualan di tahun 2017 di periode yang sama. Hal ini bisa disimpulkan bahwa peluncuran Blackberry KEY2 tidak direspon oleh positif oleh pasar dan konsumen, jika dibandingkan dengan Blackberry KEYone, Memang angka-angka diatas tidak bisa diverifikasi, tapi bisa kita jadikan diskusi analisis kenapa akhirnya TCL memutuskan untuk mengakhiri perjanjian dengan Blackberry di tahun 2020.   

The End of an Era (Again) for Blackberry

Keretakan hubungan Blackberry dengan TCL semakin terlihat dengan tidak hadirnya ponsel Blackberry di CES 2019 dan IFA (Internationale FunkAusstellung) 2019. CES 2019 dimanfaatkan oleh Blackberry untuk memperlihatkan Kolaborasi Blackberry di industri mobil dengan software QNX, sedangkan IFA 2019 dimanfaatkan TCL utnuk memperlihatkan model smarphone dengan brand TCL. Hal ini menguatkan persepsi publik bahwa rumor berakhirnya hubungan TCL dengan Blackberry tinggal menunggu waktu. 

Akhirnya di tanggal 3 Februari 2020, TCL melalui Blackberry Mobile memutuskan untuk mengakhiri kerjasama yang luar biasa dengan Blackberry Limited dari tahun 2016. TCL memastikan akan mengakhiri kontrak dan tidak menjual produk blakcberry per tanggal 31 Agustus 2020, dan berjanji tetap akan mendukung layanan purna jual hingga 2022. 

Berakhirnya hubungan Blackberry dan TCL menandakan bahwa Blackberry akhirnya kembali “wafat” dari jagat ponsel untuk waktu yang tidak ditentukan. Penulis yakin, keputusan berakhirnya kontrak Blackberry dengan TCL merupakan keputusan yang terbaik untuk keduanya. Baik dari segi bisnis maupun industri secara menyeluruh.

Perjalanan TCL dan Blackberry merupakan 1 dari ribuan cerita yang biasa kita dengar di dunia bisnis. Mungkin suatu hari, mereka akan bekerja sama kembali, well… Siapa yang tahu ?.   

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments